“Sesungguhnya akan bagaimana akhirnya?” – Hari demi hari ku
lalui yang bertemankan sepi dan sunyi. Hanya bayang-bayangmu yang menghantui. Tanpa
sosok kamu di sisi. Aku tahu, kini kamu sedang berada dalam sebuah kebingungan
dan ketidaktahuan untuk mengambil sebuah kepastian dan keputusan.
“Sesungguhnya akan bagaimana akhirnya?” – Seringkali hati bertanya,
bagaimana dengan “kita” aku dan kamu yang masih bertahan dengan ketidakpastian?
Sekiranya hati sudah merasa kaku, kesal,
marah dan capek. Raga pun merasakannya
“Sesungguhnya akan bagaimana akhirnya?” – Di sini aku
menunggumu, dengan rindu yang sangat banyak. Banyak sekali. Aku mencoba
menahannya. Sesekali hati ini menangis karna rindu. Rindu kepulanganmu, rindu
akan sebuah peluk, rindu akan sebuah senyum manismu. Rindu semua tentangmu.
“Sesungguhnya akan bagaimana akhirnya?” – Jika kamu hanya
diam, jika hanya satu yang memperjuangkan. Apakah sebuah “kita” aku dan kamu
akan terus bertahan dan bersatu?
Aku selalu berdoa untuk kita. Entah.. akan bagaimana akhirnya.. dan jika kepastian dan keputusan itu telah tiba. Apapun itu, aku harus bisa menerima.
Aku selalu berdoa untuk kita. Entah.. akan bagaimana akhirnya.. dan jika kepastian dan keputusan itu telah tiba. Apapun itu, aku harus bisa menerima.
Harapku adalah suatu hal yang bernamakan kebahagiaan. Bukan kepedihan.
kecup kening teruntuk yang jauh